Inilah Fakta Menarik Soal Investasi Syariah

Investasi merupakan salah satu hal yang penting dilakukan untuk masa depan. Berbagai instrumen investasi sanggup jadi pilihan, mulai dari reksa dana sampai saham.

Saat ini pun telah tersedia pasar modal syariah yang memperlihatkan instrumen berbasis syariah dan sanggup menjadi pilihan menarik untuk masyarakat, khususnya yang beragama Islam.

Nah, bagaimana, tertarik berinvestasi syariah? Yuk lihat fakta-fakta yang dirangkum

Pada dasarnya pasar modal syariah tidak mempunyai perbedaan dengan konvensional hanya mempunyai konsep kolaborasi secara syariah. Di mana kolaborasi tersebut tidak akan merugikan kedua belah pihak.

"Jadi ada hubungan kolaborasi atau prinsip syariah disebut syirkah. Kaprikornus pada dikala perusahaan menghasilkan laba maka investor akan dibagi laba atau dividen pada dikala saham diperdagangkan. Kaprikornus di situ ada hubungan timbal balik investor di situ lah konsep kolaborasi yang sanggup diterima oleh islam yang nggak akan merugikan kedua belah pihak," terang Staf Hubungan Kelembagaan dan Informasi Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nadhifa Alim Hapsari.

Lebih lanjut, kata Nadhifa investasi intinya didasari oleh tiga hal, yaitu yang pertama perintah Al-Quran. Perintah ini dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 9 dan surat Yusuf ayat 47-49.

"Sudah di jelaskan di Al-Quran surat An-Nisa (9) jangan meninggalkan di belakang kau bawah umur yang lemah dan surat Yusuf (47-49) sisihkan pendapatanmu untuk masa depan yang lebih sejahtera," ungkapnya.

Selain itu, kebutuhan akan investasi khususnya di instrumen syariah untuk mengantisipasi inflasi yang terjadi setiap tahunnya. Dengan berinvestasi, keuangan seseorang pun akan semakin baik ke depannya.

"Laju inflasi akan terus berkembang di mana 2008 daya beli Rp 100 ribu akan berbeda untuk tahun-tahun selanjutnya. Lalu fase keuangan, ini suatu yang tidak sanggup kita hindari, semakin meningkatnya biaya hidup tetapi pendapatan tidak akan memengaruhi. Kaprikornus ada fase pensiun ketika pendapatan menurun," imbuhnya.

Saham syariah dan konvensional tentu berbeda. Nah, cara membedakannya sanggup dilihat melalui Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Nadhifa menyampaikan bahwa kriteria saham syariah yang masuk melalui DES harus melewati beberapa prinsip syariah, yaitu business screening, financial screening, dan gres masuk ke daftar saham syariah.

"Pertama dilihat dari business screening-nya apakah tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Contoh Sampoerna itu rokok, nah itu sudah di-reject," tuturnya.

"Lalu saham Bimoli contohnya di business screening tidak bertentangan tapi dikala masuk financial screening itu ada hukum total utang berbasis bunga dibanding total aset tidak lebih dari 45%. Kaprikornus jikalau Bimoli punya utang di bank dibandingkan total aset melebihi maka akan ke-reject," sambungnya.

Selain itu, kata Nadhifa, hukum financial screening yang lain yaitu pendapatan non halal tidak melebihi 10%. Sehingga perusahaan yang mempunyai pendapatan non halal tidak akan masuk DES tersebut.

"Ketika punya deposito atau sebagai media punya iklan di luar syariah itu pendapatannya tidak lebih dari 10% maka itu kondusif dan masuk ke daftar efek syariah," jelasnya.

Inilah Fakta Menarik Soal Investasi Syariah